Menjalani perjalanan sekitar 2.5 jam dari daerah Cileunyi, Bandung Timur menuju Kawah Putih, diwarnai oleh insiden cukup unik menurut penulis. Di tengah kepadatan lalu lintas oleh para wisatawan, ban mobil keluargaku meledak karena ditembus oleh besi pada kaki kuda/delman yang tidak sengaja berada di jalan raya padat wisatawan. Cukup mengherankan, mengapa bisa terdapat besi seperti itu di jalan raya padahal jaln tersebut adalah jalan yang paling banyak dilewati oleh pengunjung jika ingin berwisata ke daerah sekitar kawasan kawah putih. Sambil memperbaiki ban tersebut, salah seorang warga asli sana menjelaskan bahwa di sekitar area Soreang menuju Ciwidey dipenuhi oleh delman yang sering melintas menjemput penumpang. Bisa dikatakan daerah tersebut adalah salah satu daerah paling banyak penghasil delman di daerah Bandung. Jadi buat sobat, jika ingin berkunjung ke kawasan sekitar Ciwidey, berhati-hatilah dengan besi tapal kuda tersebut.
Alih-alih telah selesai diperbaiki di salah satu bengkel, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kawasan kawah putih Gunung Patuha yang sudah mulai dipadati oleh pengunjung. Jalur kendaraan yang cukup mendaki, sekitar 2300 mdpl, tak menyurutkan usaha wisatawan untuk mencapai lokasi yang hendak dituju. Akhirnya kami pun sampai di lokasi kawasan Kawah Putih, Gunung Patuha, Kabupaten Bandung Selatan. Lokasi yang unik karena berada di kaldera Gunung Patuha yang sedang tidak aktif atau bahkan dapat dikatakan telah mati menjadi magnet bagi wisatawan tidak hanya lokal bahkan mancanegara.
![]() |
| Identitas Kawah Putih, dekat pintu masuk |
![]() |
| Ontang-Anting : Moda Transportasi Umum di Kawah Putih |
![]() |
| Kawasan Danau Kawah Putih, Gunung Patuha, Ciwidey |
Pada jelajah kali ini, saya mengamati bahwa kawasan kawah putih ini telah menjadi destinasi wisata khas Bandung namun minim perawatan dan perbaikan dari pengelola baik pengelola Gunung maupun Pemerintah Kabupaten Bandung Selatan. Saya mengamati bahwa lokasi parkir di kawasan bawah kawah putih masih berupa tanah belok karena begitu becek ketika hujan. Hal ini dapat menjadi perhatian bersama. Selain itu, inovasi-inovasi perlu ditambahkan seperti papan-papan penjelasan tentang sejarah Kawah Putih atau Gunung Patuha atau sejenisnya sehingga selama perjalanan menuju lokasi pusat kawah putih pengunjung tidak bosan. Kemudian disediakan jasa bengkel atau derek karena tak jarang banyak kendaraan pribadi yang mogok di tengah perjalanan. Tentunya ini berbahaya menurut penulis. Penyediaan fasilitas ibadah untuk umat muslim tidak sesuai dengan kapasitas pengunjung ketika moment liburan. Pengamatan tersebut penulis lakukan semata untuk meningkatkan kualitas destinasi wisata di Indonesia. Semoga destinasi wisata di Indonesia dapat menjadi komoditi utama baik untuk wisatawan lokal bahkan mancanegara. Dan jangan lupa untuk tidak mengotori lokasi kawasan kawah putih ini karena dapat mengganggu pemandangan atau kualitas udara di kawasan ini.
Have a nice weekend!



