Sunday, February 7, 2016

Aku Masuk ITB : Agenda Tahunan Minim Dukungan

Ganesha, Bandung - Cerahnya pagi di akhir pekan minggu perdana di bulan Februari di 2016, kampus gajah itu kembali didatangi oleh siswa-siswi dari berbagai wilayah di Indonesia, yang ingin mengetahui roda kehidupan di kampus ITB. Mereka mendatangi petak-petak yang berukuran sekitar 2x3 m yang di dalamnya diisi oleh pemeran di dalam kampus ITB. Dengan antusias atau hanya sekedar formalitas mendatangi petak-petak tersebut untuk menanyakan seputar rasa ingin tahunya tentang identitas dari masing-masing program studi di kampus ITB. Respon yang baik pun juga diberikan oleh banyak tuan rumah kepada para tamu mereka. Mereka dimanjakan oleh gurihnya informasi dari para tuan rumah tentang kehidupan yang ada di dalam rumah mereka. Yaaa.... suatu hal yang menjadi rutinitas tiap tahunnya di kampus tercinta.


Sebelum kedatangan para tamu itu, ternyata telah banyak mahasiswa yang mengatasnamakan diri mereka sebagai panitia aku masuk ITB, yang merelakan waktunya lebih awal untuk menyambut mereka para tamu agar merasa nyaman di kampus ini. Apresiasi tertinggi menurut saya layak untuk diberikan kepada mereka para panitia AMI, menyiapkan acara dari semenjak bulan September hingga akhirnya berakhir di acara puncak pada hari ini, 7 Februari 2016. Perjuangan yang luar biasa dari kawan-kawanku di kepanitiaan AMI 2016.

Namun, ternyata di tiap tahunnya AMI tidaklah sendiri. Terdapat juga element-element yang tidak di luar organigram KM ITB yang membantu mewujudkan tujuan dari acara AMI itu sendiri. Ya.. sekitar 60 paguyuban menyebar di masing-masing daerah untuk menyosialisasikan tentang pentingnya pendidikan di perguruan tinggi ditambah sedikit informasi tentang ITB. Begitu juga dengan usaha beberapa orang dari mahasiswa dari kampus ini yang dengan rela menyebar di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) dalam segi pelayanan sebagai warga negara. Mereka menyebar di daerah-daerah yaitu Kalimanatan, NTT, dan juga Maluku.  Tentunya usaha ini sangatlah baik di dalam menjamah sektor yang belum bisa dipegang oleh pemerintah kita. 

Ya... 7 Februari 2016, sebagai puncak rangkaian acara AMI tentunya akan memberikan oleh-oleh bagi perkembangan pendidikan di negeri yang begitu kompleks di dalam dunia pendidikannya. 

Kembali ke AMI. Kehadiran AMI dan unsur-unsur pendukungnya ternyata minim dukungan dari para stakeholder, baik dari rektorat ITB maupun pemerintah melalui kementrian pendidikan dan para pemegang otoritas desentralisasi di berbagai daerah. Kepergian paguyuban-paguyuban ke daerah kurang diketahui oleh pemerintah sehingga minim dukungan baik berupa perizinan bahkan terkait masalah pendanaan akomodasi tim paguyuban. Minimnya dukungan dari rektorat pun berdampak juga terhadap penyampaian informasi dari AMI melalui paguyuban-paguyuban yang tidak begitu meninggalkan pesan yang berdampak bagi mereka, adik-adik pemegang tongkat estafet pendidikan. 

Ya... begitulah evaluasi yang sebaiknya menjadi cerminan bersama untuk ke depannya. Mengapa tidak seluruh perguruan tinggi bersatu untuk sama-sama mewujudkan pentingnya pendidikan perguruan tinggi. Karena tak sedikit yang pendidikannya terhenti di kala jenjang seragam putih abu-abu. Stakeholder pun tentunya mau tidak mau dituntut untuk ikut serta di dalam agenda-agenda seperti ini. Semoga coretan ini bisa terjadi walaupun pada dasarnya butuh kesadaran untuk meninggalkan arogansi di tiap kampus. 

Untuk uniknya pendidikan di Indonesia yang lebih baik lagi:) 

No comments:

Post a Comment